Kamis, 16 Juni 2016

Boo, terindah dari seribu bulan












Hai Boo
Barangkali sekadar ingatan lalu belaka
Hampir sebilang semalam, rembulan bertabur bintang
Disayang-sayang sepanjang zaman ini, tak kerap nampak
Mungkinkah purnama lelah bertegur dengan bintang-bintang?
Ataukah kerlipnya mulai redup hingga tak susup bumi?
Siapa yang sangka…

Bukan untuk sepanjang bulan ini
Bahkan jika sang bulan lagi teman tak nampak, malam-malamnya acap dinantikan
Suka cita meledak-ledak diatas pengharapannya
Rasa syukur tak terperi penantian atas bulan penuh rahmat
Lebih-lebih satu malam garib penghulunya bulan, sayyidus syuhur

“Alloohumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya'ban, wabaarik lanaa fii Romadhon “
Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan

Rahasia langit dan seluruh keajaibannya tak terbanding
Tak usah ditanya maha ciptaan, pun barang siapa

Maka carilah tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan
Lailatul Qadar
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
Malam indah penuh kelembutan, cerah, tak panas pun tak juga dingin
Hingga surya terbit, sinarnya tak menyilaukan, seakan melemah kemerah-merahan
Diantaranya,
Turunnya maha pustaka Sang Agung kitab suci Al-Qur’an
Malam yang begitu agung dalam kerajaan langit hingga diabadikan dalam suatu surah Al-Qadar.
Sementara itu, catatan Lauhul mahfudz  tertulislah oleh seluruh perkara muka bumi atas tahun itu

Barangsiapa berdiri shalat sunah pada malam mulia seribu bulan
Dengan penuh iman pun harap akan ridho-Nya, terampunilah dosanya yang telah lalu

“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”

Satu amalan baik pun lebih baik atas kebaiakan seribu bulan, 83 tahun
Bak cahaya terang dalam gelap, keselamatan akan bencana diberikan
Tak satupun bintang pun meteor jatuh pada atmosfer bumi
Hingga pagi menjelang matahari keluar tanpa radiasi cahaya
Sungguh sebuah malam terlindungi atas segala bahaya dan bencana
Istimewanya, kado terindah oleh para malaikat atas orang beriman hingga terbit fajar disampaikan
Sungguh satu malam yang tak bisa dibandingkan oleh malam lainnya
Allahuakbar…

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun , sukakan keampunan maka ampunilah aku.”

Boo, Semoga semua muslim muslimah dipertemukan dengan Lailatul Qadar
Dilimpahkan rahmat, hidayah, karunia serta pengampunan-Nya
Amin…



Jumat, 27 Mei 2016

Boo, inikah makna pemberian dengan hati ?






Boleh jadi pikiran kita sendiri harus terabaikan
Musuh? Terkadang semua hal minus di kepala adalah momok kita
Segaian soal di hidup kita yang tak tersampaikan, bukan berarti tak dapat kita tuju
Tak juga berarti belum cukup waktu untuk mendapatkannya
Tetapi memang bukan untuk kita
Lebih banyak yang pantasnya mendapatkannya
Ini akan menjadikan kita tak kecewa ketika membayangkan orang yang pantas memilikinya
Dengan segala kekurangan mereka dibangingkan kita

Jangan terpengaruh dengan musuh khayalan kita karena hanya dengan itu akan menjadikanmu rendah
Bahkan ketika semua orang membicarakan harta
Semua kerja keras adalah sumber dari inti jawabannya, bukankah begitu? Atau lainnya, Boo?
Terlepas dari pemberian orang lain atau sebuah kotak hadiah sebagai ucapan selamat dan kasih sayang

Bukankah kebanggaan diri itu menangkap yang ingin ditangkapnya dengan tangan sendiri?
Sehingga diri kita tidak untuk meminta bahkan mengemis
Lalu bagaimana dengan mereka yang mendapatkan hasil dari kerja kerasnya
Namun tak puas hingga masih meminta, walaupun bukan sekandung sedarah?
Itu hanya bualan busuk jika mereka masih dapat mengatakan pantas menerima
Dengan alasan, mereka adalah salah satu yang terkasih dan semuanya bentuk kasih sayang
Membayangkannya saja membuatku merinding dan malu
Boo, apa jadinya jika semuanya melakukan yang serupa?

Apa guna semua hasil kerja kerasnya?
Sebagai simpanan? Pegangan hidup? Itukah dipikiran pribadi seperti itu?
Mengunci erat yang dimiliki tanpa digunakan, namun menempel sebagai lintah pada seseorang
Untuk mendapatkan apa yang ingin dirinya tangkap,
Tanpa membuka gembok hasil sendiri sehingga tak berkurang
Lalu mengapa harus berkeringat jika mereka hanya menghasilkan sesuatu dengan meminta seperti itu?
Sungguh lebih menyedihkan dari seorang tunawisma, yang pada hakekatnya benar tak mampu

Benarkah mereka dapat membedakan?
Pemberian dengan hati atau pemberian dengan pati?
Atau aku yang tak paham dan sepaham?
Boo, aku hanya ingin mengungkapkan taksiranku tentang ini




Kamis, 26 Mei 2016

Boo, biar aku bagikan bagaimana aku disini




Sementara dibalik jendela banyak pribadi bebas melangkah memilih jalan untuk kebahagiaan
Menyimpan waktu dan melepaskannya untuk kesenangan, pelipur diri
Mengurung diri dalam sangkar dan terbang, walau hanya beberapa saat
Bukan berarti tak mencapai apapun selain itu, namun tetap mendapatkannya
Menutup tirai tak menjanjikan menjadi lega mengabaikan mereka, pada akhirnya tirai kubuka lagi
Sedang aku? Tak berkutik, hampir tak menghasilkan apapun
Hening… nyenyat tak bergerak

Jenuh memang dengan hidup seperti ini, dan bisa dikatakan menyedihkan
Bayangkan saja, hidup cukup dengan berprofesi, dan seusai hanya menatap pada layar
Yang semuanya hanya sebuah drama, fiktif saja
Sesekali terawa, terhibur memang
Tapi apakah untuk selamanya? pertanyaanku setiap kali tertawa ketika menatap
Ternyata tidak, tidak untuk semua keadaan
Kadang aku merasa hidup yang seperti ini terasa sangat membosankan
Bagaimana tidak, tanpa juga dibumbui hangatnya kasih keluarga

Biar aku bagikan bagaimana aku disini
Kalau-kalau tak hanya aku yang seperti ini, entah apa yang akan dilakukannya
Ada kala keadaan seperti ini aku rindukan
Musimku untuk menyendiri, menyepi
Terdengar aneh, konyol bagi kalian, namun apa daya inilah keadaanku di musim itu
Tak sudi terusik oleh bab apapun, bahkan itu semua kesayangan
Bodohnya aku, itu musim yang selalu muncul dikehidupanku
Barang kali mereka marah dengan aku yang seperti itu, tapi itu aku saat itu
Mungkin lagi mereka merasa tak dianggap keadaannya, tapi itu keadaanku saat itu
Dan tolong sampaikan pada mereka, Boo
Itu adalah musin cukup dengan aku, aku, dan kehidupanku sendiri
Jika sayang, mereka harusnya tau juga pahami

Kali ini, aku gelisah musim apa sekarang untukku
Belum ada saat, ketika aku ingin sendiri namun terasa jenuh dengan kesendirian sendiri
Apa yang harus aku lakukan? Tolonglah keadaanku ini, Boo
Biar aku bagikan bagaimana aku disini



Selasa, 17 Mei 2016

Boo, hanya mimpi




Boo, aku disini...
Masih terasa gelap
Walau empat titik pijar menyala
Dingin merayak sekujur kuduk
Hanya seorang diri disini
Dan tak satu senyumpun mengemban

Sunyi...
Terbawa dentingan jam lirih
Sayup-sayup angin dan hembus nafas sendiri
Sesekali decit-decit jendela menyeruak 
Sendu tak bertepi

Namun entah...
Terasa nyaman yang syahdu disini
Hingga tak ingin beranjak pergi
Duduk,
Kepala terbaring dan mata terpejam
Semua seolah berputar
Begitu banyak persimpangan disana
Namun semuanya indah, warna-warni dan bahagia

Sementara pintu ruangan terbuka
Ah... hanya mimpi



Kamis, 07 April 2016

Boo, dalam nostalgia



Hai Boo,
Diam tanpa apa-apa, mengusikku tentang kenangan lalu
Bagai album foto usang yang tertata rapi
Berdebu namun begitu artistik indah
Setiap gambarnya membawa kenangan yang berbeda
Bahkan halamannya mengisahkan cerita berparak mengesankan

Bukan berbeda, tak juga disebut sama dengan lainnya
Sebuah hari dikisahkan sebagai purwanya
Pertemuan dengan bertahuan, saling sapa
Membawa mereka singgah bersama hari-hari di masa itu
Sani tak terbenam diantara kisah yang berbeda

Warna-warni kembang memberikan aroma berlainan
Disepanjangnya sebagian nampak durinya
Paham laku mereka bagai kembang
Memberikan keindahan semerbak di nostalgia


Boo,
Mereka pula kampung halamanku
Rindu tak terputus untuk berbagi bercerita tertawa bersama
Bagai bintang, jauh di angkasa terlihat dekat selalu indah

Dan berharap mereka... 
Bukan dibelakang, sewaktu-waktu mungkin menghilang
Tak jua didepan, entah berlari meninggalkan
Hanya ingin disamping, untuk selalu berdampingan


Kamu akan seperti itu kah, Boo ?



Jumat, 01 April 2016

Boo, tak boleh hanyut





Hai Boo,
Sore yang dingin
Berpaku keluar jendela, dan hujan tumpah dengan derasnya
Sementara dilain tempat
Berkabar 

Semua orang merasakan hal yang sama
Berulangkali bahkan setiap kali menjalaninya
Saling berpapasan, bertegur sapa
Saling bergandengan, berjalan bersama
Bahkan bersaling, bersaing

Masalah ibarat bayangan diri
Tak pernah lepas dan menghilang
Hanya perlu terus berjalan dengannya bersanding pada langkah kita
Maka tak akan perlu tertabrak karena terus melihat ke bawah

Terus berjalan melihat kedepan
Bukan berarti tak akan menoleh ke kanan, ke kiri
Fokus kebawah bukan untuk meratapi masalah yang datang bersama bayangan
Sekedarlah melihat dan mencari jalan keluar untuk kembali melangkah maju

Berbalik sesekali, melihat kebelakang
Mereka yang lukanya lebih pedih, begitu banyak
Untuk tetap berikatan saling berbagi 
Jagalah pandangan ke langit atas
Hanya akan menuntunmu untuk iri hati

Ingatlah satu hal Boo,

Pada akhirnya manusia hanya bisa mengikuti jalan yang telah direncanakan-Nya
Tinggalah keputusan untuk tetap berjalan lurus atau berpindah ke jalur lain 
Yang tak jarang menjadi semakin rumit
Tak ada dalam kamus berusaha kata menyerah
Menyerah bukanlah alasan atas usaha yang gagal
Karena kegagalan itu sendiri adalah kata menyeah

Dan bantulah aku selalu menyimpannya di setiap perjalananku




Selasa, 15 Maret 2016

Boo, sang putri bertahan






Hai Boo,

Sore yang teduh untuk tetap bertahan
Terlihat kuat bukan berarti mampu
Hanya tak ingin menampakkan diri yang seperti kapas
Bukan berarti meruap berdiam diri
Harus tetap beranjak dan terus berlari

Meskipun tak semudah air membasahi perahu kertas
Waktu tak bisa terus sembunyi mengelak melihat usaha ini

Kamu tau Boo,
Aku selalu ingat kalimat ini, “Anak cantik Ibu, pasti bisa.”
Raja dan ratu selalu bangga dan percaya dengan putrinya
Meskipun sang putri ragu, sang baginda tau kemampuannya

Tapi ini bukan titiknya,
Seperti angin yang melewati celah pohon bambu, bersuara begitu merdu
Dirasa tak mungkin, tak masuk akal
Akan ada detik, ketika melalui, dan melampauinya


Boo,
Kamu percaya kan, sang Putri pasti bisa?